Dengan Pasar China yang Diperbesar, Prancis Juga Ingin Akses Izinnya

3 min read

Pasar china – Perancis berharap dapat memperluas peluang bagi perusahaan Perancis untuk beroperasi di pasar china. Selain itu, Paris juga menginginkan keseimbangan yang lebih baik dalam perdagangan bilateral. Perancis tidak bermaksud menjauh dari China, tetapi hanya ingin menghindari risiko adanya ”tekanan ekonomi” China seperti yang dinyatakan oleh negara-negara anggota Kelompok Tujuh atau G7.

Demikian disampaikan Menteri Ekonomi dalam lansiran C-ES News, Keuangan dan Kedaulatan Digital Perancis Bruno Le Maire setelah bertemu dengan para pejabat senior China di Beijing, China, Minggu (30/7/2023). ”Menolak bukan berarti menganggap China berbahaya.

Kami hanya ingin lebih berdaulat dan tidak ingin menghadapi risiko apa pun dalam rantai suplai kami jika terjadi krisis baru lagi, seperti pandemi Covid-19 yang sungguh merusak rantai suplai. Kami tidak ingin ada kendala hukum atau halangan lain untuk mendapat akses ke pasar china,” ujar Le Maire, sehari setelah bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng.

Macron Bertemu dengan Inventor Terbesar Pasar China

Pasar China
Pasar China

Dalam pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping sebagai salah satu inventor Pasar China, Macron menekankan pentingnya hubungan bilateral yang seimbang dan saling menguntungkan antara kedua negara. Ia juga mengajak China untuk bekerja sama dalam menangani isu-isu global seperti perubahan iklim, pandemi Covid-19 dan krisis Afghanistan.

Macron mengatakan bahwa Perancis menghargai peran China sebagai mitra strategis di kawasan Asia-Pasifik dan di dunia. Ia juga menyampaikan harapannya agar China dapat membuka pasar lebih luas bagi produk-produk Perancis, khususnya di bidang pertanian dan energi.

“Kami ingin meningkatkan kerja sama kami di sektor-sektor ini, yang merupakan sektor kunci bagi ekonomi kami dan bagi penciptaan lapangan kerja,” kata Macron.

Perancis adalah salah satu negara Eropa yang paling aktif berdagang dengan China. Menurut data Kementerian Perdagangan China, nilai perdagangan bilateral antara kedua negara mencapai 62,9 miliar dolar AS pada tahun 2020, naik 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, Perancis juga menghadapi beberapa hambatan dalam mengakses pasar China, seperti tarif impor yang tinggi, standar kesehatan dan keselamatan yang ketat, dan praktik persaingan yang tidak adil. Beberapa produk Perancis yang sulit masuk ke pasar China antara lain anggur, keju, daging babi, dan produk nuklir.

Macron Berharap Kerja Sama Lebih Erat

Selain masalah perdagangan, Macron juga membahas sejumlah isu strategis dengan Xi Jinping, seperti situasi di Afghanistan, Iran, Myanmar, dan Korea Utara. Ia mengatakan bahwa Perancis dan China memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan dan di dunia.

Macron juga menekankan pentingnya kerja sama multilateral dalam menangani perubahan iklim, yang menjadi salah satu prioritas utama bagi pemerintahannya. Ia mengapresiasi komitmen China untuk mencapai emisi karbon netral pada tahun 2060 dan berharap agar China dapat meningkatkan ambisi dan aksinya dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Perubahan iklim adalah masalah terbesar yang dihadapi bangsa manusia saat ini. Kami harus bekerja sama untuk mencari solusi yang efektif dan adil,” kata Macron.

Macron juga menyambut baik inisiatif Belt and Road (BRI) yang digagas oleh China sebagai proyek infrastruktur global yang dapat meningkatkan konektivitas dan kerja sama antara negara-negara. Ia mengatakan bahwa Perancis siap berpartisipasi dalam proyek-proyek BRI yang sesuai dengan standar lingkungan, sosial, dan keuangan yang tinggi.

“Kami ingin membangun hubungan yang lebih dekat dengan cina berdasarkan rasa saling menghormati, saling percaya dan saling menguntungkan. Kami yakin bahwa kerja sama antara Perancis dan China dapat memberikan manfaat bagi kedua negara dan bagi dunia,” kata Macron.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours