Jambore Pramuka Saat Gelombang Panas, Indonesia Pilih Bertahan

3 min read

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo menceritakan kondisi terkini tim Indonesia yang mengikuti World Meeting Camp dalam konteks cuaca yang sangat panas di Korea. Dito mengatakan delegasi Indonesia masih bertahan dan ingin melanjutkan Jambore Pramuka di Korsel.

“Sejak kemarin kami sudah berkoordinasi dengan baik dengan ketua delegasi di sana dan KBRI. Jadi bisa dikatakan dari segi penerimaan, tuan rumah dinilai kurang siap, tapi dari segi tim Indonesia, menurut penelusuran kami, situasi masih kuat dan kami masih ingin melanjutkan camp,” kata Dito, Minggu (6/8/2023).

Dito mengatakan, pihaknya akan terus memantau secara ketat status personel TNI di Korsel. Dito meminta sang kapten segera mengantisipasi jika ada situasi yang tidak memungkinkan dirinya untuk melanjutkan.

“Namun kejadian ini masih kami pantau secara ketat. Kami telah meminta kepada ketua tim untuk segera bertindak jika situasinya tidak memungkinkan untuk ditangani,” kata Pak Dito.

“Namun menurut laporan ketua tim, para peserta Indonesia masih menunjukkan semangat dan semangat bertahan sambil menunggu perkembangan,” lanjutnya.

Selain itu, Dito mengatakan sejak kemarin pihaknya telah berkoordinasi dengan ketua delegasi serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul, Korea. Delegasi Indonesia, kata dia, masih menanti kelanjutan World Friends Camp di Korea. “Sejak kemarin kami sudah berkoordinasi baik dengan ketua delegasi di lokasi maupun dengan pihak KBRI. Memang faktor cuaca akan menjadi tantangan, mungkin tidak semua peserta paham dengan cuaca.

Delegasi Indonesia masih berkeinginan untuk melanjutkan pertemuan dengan Saudara, namun tentunya kami akan terus memantau secara ketat hal ini dan telah meminta kepada Presidium Presidium untuk menyiapkan langkah-langkah yang akan diambil terhadap perkembangan yang ada, kata Dito.

Surat Demokrasi untuk Jokowi dan Menpora

Dalam surat yang dilihat pada Minggu (8/6), Herzaky menyebut ada 17 situasi ketakutan yang dialami anak-anak yang mengikuti Camp Friends. Herzaky juga menjadi salah satu penjaga gawang peserta World Friends Camp.

Herzaky mengatakan, gelombang panas di negeri ginseng itu sangat berbahaya bagi kesehatan dengan suhu mencapai 38 hingga 40 derajat Celcius.Keluhannya, banyak fasilitas yang jauh dari lokasi utama Camp Friends.

Herzaky berharap pemerintah Indonesia dapat segera bertindak untuk memindahkan anak-anak peserta ke lokasi yang lebih aman dan layak hingga kepulangannya.

Amerika Serikat, Inggris dan Singapura Tinggalkan Jambore Pramuka

Jambore Pramuka di Korea Selatan terkena dampak panas yang ekstrem. Beberapa negara seperti Singapura, Amerika Serikat, dan Inggris juga telah menarik pramuka mereka.

Menurut Channel News Asia, pada Minggu (8 Juni), sekitar 43.000 orang menghadiri rapat umum di provinsi Jeolla Utara. Namun, gelombang panas yang ekstrem membuat ratusan Pramuka sakit. Kondisi tersebut memaksa Seoul untuk mengerahkan dokter militer, menyediakan bus ber-AC, dan berjanji akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan acara tersebut.

Kritik juga berkembang karena kondisi di kamp dinilai buruk akibat kondisi cuaca ekstrem. Kamar mandi di area kamp pertemuan tidak sempurna dengan kondisi sanitasi di bawah standar.

Pejabat AS mengatakan sekitar 1.500 pengintai dari seluruh negeri akan menuju ke Camp Humphreys, tempat Angkatan Darat AS ditempatkan di Pyeongtaek.

Sementara itu, Peserta Jambore Pramuka Inggris – kelompok terbesar sekitar 4.000 – mulai kembali ke Seoul pada hari Sabtu, dalam apa yang dikatakan para pejabat sebagai upaya untuk “meringankan tekanan di sana”. 

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours